Usai Lebaran, Ini Cerita Orang Tua dan Tips Ahli Gizi Atur Pola Makan Anak

|

15 Views
Ahli Gizi Deni Wismaati, S.SiT., M.Gizi, saat diwawancarai Parenthingsofficial di Puskesmas Jurangombo, Kota Magelang (WILDAN MAULANA/PARENTHINGSOFFICIAL)

PARENTHINGSOFFICIAL.COM – Momentum lebaran seperti saat ini para orang tua tentu was – was akan pola makan anak mereka. Pola makan yang biasanya hanya pagi dan sore hari di bulan Ramadan, saat lebaran tentunya kembali lagi seperti semula. Hal ini membuat orang tua takut akan bahaya yang mungkin saja terjadi, jika pola makan tersebut tidak diatur.

Selain itu makanan ringan atau snack tentunya banyak sekali saat lebaran, mengingat tradisi di Indonesia yang dalam setiap bersilaturahmi ke rumah – rumah pasti banyak sajian. Sajian yang beragam tentu menarik perhatian anak untuk mencicipi, padahal orang tua tidak tahu apakah makanan tersebut baik untuk anak mereka.

Sarah, 27, seorang ibu muda di Kabupaten Magelang mengungkapkan pasca bulan Ramadan pola makan anaknya mengalami perubahan. Tentu karena tidak lagi puasa anak lebih bebas untuk memakan makanan yang dia suka. Apalagi di momen lebaran seperti saat ini, anak jadi lebih susah untuk diatur.

“Pasti ada perubahan (pola makan). Apalagi kan sering silaturahmi ke rumah-rumah. Pasti banyak makanan. Anak-anak itu cenderung pilih camilan manis daripada makanan utama,” Ujar Sarah saat ditemui di kediamannya, Sawitan, Kabupaten Magelang, Jum’at, 27/03/2026.

Menyiasati hal tersebut, Sarah mengaku membatasi anaknya untuk memakan makanan yang tidak sehat seperti snack manis maupun makanan ringan dalam kemasan. Caranya dengan membuat kesepakatan kepada anak sebelum berkunjung ke rumah kerabat, agar anak tidak terlalu banyak makan yang manis – manis. Menurut Sarah cara ini efektif karena anak jadi takut untuk makan terlalu banyak snack yang manis – manis.

Melihat contoh di atas, dapat dilihat bahwa peran orang tua dalam mengatur pola makan anak sangat penting sekali. Mengingat orang tua utamanya seorang ibu pasti menginginkan hal terbaik untuk kesehatan anaknya. Oleh karena itu, orang tua juga perlu mengetahui bagaimana cara terbaik dalam mengatur pola makan anak dari pakar atau ahli dalam bidang gizi.

Ahli gizi Deni Wismaati, S.SiT., M.Gizi., menyampaikan bahwa setelah momen Ramadan serta lebaran seperti saat ini, pola makan anak harus kembali ke pola makan yang sehat.

“ Kalau anak itu makan (snack) yang banyak kandungan gulannya tidak baik. Anak ada Batasan gulanya, per hari maksimal 4 sendok teh, dengan per sendoknya takaran 4 gram. Tetapi kalau untuk anak di bawah 2 tahun dihindari tambahan gula, karena anak sedang mengenal makanan.” Ujar Deni saat ditemui di Puskesmas Jurangombo, Kota Magelang, (Sabtu, 28/3/2026).

Lebih lanjut Deni menambahkan, setidaknya ada dua cara utama yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatur pola makan anak tetap sehat di moment lebaran seperti saat ini, yaitu :

1. Frekuensi Makan Yang Teratur

Mengatur frekuensi makan anak penting untuk menjaga pola makan sehat mereka, misalnya dalam satu hari anak harus makan tiga kali dari pagi sampai sore. Sebagai orang tua, sebaiknya memberikan jadwal yang teratur dan memberikan makanan sehat agar anak tidak makan makanan sembarangan.

2. Jenis Makanan Yang Beragam

Dengan menu makanan yang beragam, anak tentunya akan tertarik untuk makan makanan yang sudah disiapkan orang tua. Namun perlu diingat, makanan beragam ini harus olahan rumahan atau dibuat langsung oleh orang tua. Hal ini bertujuan agar orang tua tahu bahan makanan yang dimakan oleh anak. Makanan beragam ini bisa berupa makanan pokok seperti nasi atau pengganti karbohidrat lain seperti ubi atau lainnya. Selanjutnya lauk yang memiliki kandungan protein baik nabati maupun hewani.

Untuk membuat anak mau memakan makanan yang sehat, Deni juga memberikan beberapa tip yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak terbiasa dengan makanan sehat, diantaranya :

1. Memperkenalkan Sejak Dini Dengan Makanan Sehat

Anak harus diperkenalkan dengan makanan sehat sejak mulai belajar makan, karena masa ini merupakan fondasi penting bagi pembentukan kebiasaan makan dan gaya hidup di kemudian hari. Pengenalan makanan bergizi sejak dini membantu anak tumbuh dengan pola makan yang seimbang, mendukung perkembangan otak, tulang, serta sistem kekebalan tubuh, sekaligus mencegah risiko penyakit seperti obesitas dan diabetes pada masa depan.

2. Menyajikan Makanan Dengan Menarik Kepada Anak

Menyajikan makanan dengan cara yang menarik merupakan salah satu strategi penting agar anak mau mencoba dan akhirnya menyukai makanan sehat. Anak cenderung tertarik pada hal-hal yang berwarna, unik, dan menyenangkan, sehingga orang tua bisa memanfaatkan kreativitas dalam penyajian. Misalnya, buah dan sayuran dapat dipotong dengan bentuk lucu seperti bintang atau hati, disusun menjadi wajah tersenyum di atas piring, atau dibuat menjadi sate buah berwarna-warni. Selain itu, variasi warna alami dari sayuran hijau, wortel oranye, dan tomat merah bisa dijadikan kombinasi yang menggugah selera. Penyajian dalam wadah yang menarik, seperti mangkuk bergambar atau piring berwarna cerah, juga dapat menambah antusiasme anak.

3. Menciptakan Suasana Makan Yang Menyenangkan

Menciptakan suasana makan yang menyenangkan merupakan kunci agar anak mau menerima dan menyukai makanan sehat. Suasana yang penuh tekanan, seperti memaksa anak untuk menghabiskan makanan, justru dapat menimbulkan penolakan dan membuat anak enggan mencoba. Sebaliknya, ketika waktu makan dijadikan momen yang santai, hangat, dan penuh interaksi positif, anak akan merasa nyaman dan lebih terbuka untuk mencicipi berbagai jenis makanan.

4. Membiasakan Anak Makan Bersama Keluarga

Membiasakan anak makan bersama keluarga adalah salah satu cara efektif untuk menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini. Saat makan bersama, anak dapat melihat langsung bagaimana orang tua dan anggota keluarga lain menikmati makanan bergizi, sehingga mereka terdorong untuk meniru perilaku tersebut. Kehadiran orang tua sebagai teladan sangat penting, karena anak cenderung belajar melalui pengamatan dan meniru kebiasaan orang-orang terdekat. Selain itu, makan bersama menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan, yang membuat anak merasa nyaman dan lebih terbuka untuk mencoba berbagai jenis makanan sehat.

5. Mengurangi Penggunaan Gadget Pada Saat Anak Sedang Makan

Mengurangi penggunaan gadget saat anak sedang makan merupakan langkah penting untuk memastikan mereka fokus pada makanan sehat yang disajikan. Ketika anak makan sambil menonton televisi atau bermain gawai, perhatian mereka teralihkan sehingga tidak benar-benar menikmati rasa dan tekstur makanan, bahkan sering kali tidak menyadari jumlah yang sudah dimakan. Hal ini dapat mengganggu proses pembentukan kebiasaan makan sehat dan berisiko menimbulkan pola makan yang tidak teratur. Sebaliknya, jika waktu makan dijadikan momen bebas gadget, anak akan lebih mudah berinteraksi dengan keluarga, belajar mengenali rasa makanan, dan mengembangkan kesadaran terhadap kebutuhan tubuhnya.

Artikel Menarik Lainnya