
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, cara anak berkomunikasi juga ikut berubah. Kalau dulu anak lebih sering bercerita kepada orang tua, sekarang justru banyak yang merasa lebih nyaman mencurahkan perasaan mereka di internet. Mulai dari media sosial, forum online, hingga aplikasi anonim, semua menjadi tempat alternatif untuk “curhat”.
Fenomena ini bukan muncul tanpa alasan. Internet menawarkan sesuatu yang kadang tidak ditemukan dalam hubungan antara anak dan orang tua: rasa aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi.
Menurut laporan Digital 2024 Global Overview Report dari We Are Social dan Kepios, kelompok usia 16–24 tahun menghabiskan rata-rata lebih dari 6 jam per hari di internet. Durasi yang cukup tinggi ini membuat dunia digital bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan diri.
Hal serupa juga terlihat dari temuan Common Sense Media yang menunjukkan bahwa remaja saat ini lebih banyak berinteraksi melalui media digital dibandingkan komunikasi langsung. Ini menjelaskan kenapa internet perlahan mengambil peran sebagai “teman bercerita”.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat anak lebih memilih internet?
Salah satu alasannya adalah rasa takut. Tidak sedikit anak yang merasa bahwa ketika mereka bercerita kepada orang tua, respons yang muncul justru berupa nasihat panjang, kritik, atau bahkan kemarahan. Alih-alih merasa lega, mereka justru merasa tidak dipahami. Kondisi ini membuat anak mencari tempat lain yang dianggap lebih aman secara emosional.
Selain itu, kedekatan emosional dalam keluarga juga berpengaruh. Hubungan yang jarang diisi dengan komunikasi mendalam membuat anak merasa canggung untuk terbuka. Akhirnya, internet menjadi pilihan karena memberikan jarak sekaligus kenyamanan.
Faktor anonimitas juga tidak bisa diabaikan. Di internet, anak bisa bercerita tanpa harus mengungkap identitasnya. Hal ini memberi kebebasan untuk jujur tanpa takut dinilai. Ditambah lagi, respons dari orang lain di dunia digital sering terasa lebih cepat dan “nyambung”, apalagi jika berasal dari orang-orang dengan pengalaman serupa.
Namun, kenyamanan ini tetap perlu diwaspadai. Internet bukan sepenuhnya ruang yang aman. Risiko seperti informasi yang tidak akurat, pengaruh negatif, hingga perundungan siber masih sering terjadi. Data dari UNICEF bahkan menyebutkan bahwa satu dari tiga anak di dunia pernah mengalami cyberbullying.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, hubungan antara anak dan orang tua bisa semakin renggang. Anak akan terbiasa menyimpan jarak, sementara orang tua kehilangan perannya sebagai tempat pertama untuk berbagi cerita.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional. Anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan solusi, tetapi ingin didengar dan dipahami. Respons yang lebih tenang, tidak menghakimi, dan penuh empati bisa membuat anak merasa lebih aman untuk terbuka.
Selain itu, orang tua juga perlu mulai memahami dunia digital yang dekat dengan anak. Bukan untuk mengontrol secara berlebihan, tetapi agar bisa mendampingi dan tetap terhubung dengan kehidupan mereka.
Pada akhirnya, fenomena ini bukan semata-mata karena anak “lebih memilih internet”, tetapi karena mereka belum menemukan ruang yang cukup nyaman di rumah. Ketika komunikasi dalam keluarga dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin orang tua kembali menjadi tempat utama bagi anak untuk bercerita.